Filsafat Tidak Mati

Belakangan, muncul lagi suara-suara miring soal filsafat. Salah satunya datang dari Ferry Irwandi yang menyatakan bahwa filsafat tidak bermanfaat dan sudah tidak layak lagi diajarkan di perguruan tinggi karena sepi peminat. Bahkan, ia mengusulkan agar jurusan filsafat dihapus saja.

Pernyataan ini tentu mengundang tanya: benarkah filsafat sudah bangkrut?

Bangkrut, dalam pengertian umum, berarti mengalami kerugian besar biasanya dalam konteks bisnis atau keuangan. Tapi, jika dikaitkan dengan filsafat, istilah ini menjadi rancu. Apakah yang dimaksud adalah bangkrut secara materi? Kalau iya, filsafat memang tidak menjanjikan kekayaan, tapi apakah karena itu lantas ia tak berguna?

Filsafat tidak bisa diperlakukan layaknya toko atau perusahaan. Ia bukan bisnis. Ia adalah jalan berpikir, pencarian makna, latihan untuk menggunakan akal secara jernih dan kritis. Maka, menyebut filsafat “bangkrut” karena tak mendatangkan keuntungan materi adalah keliru sejak awal.

Menganggap filsafat mati karena fakultas filsafat sepi peminat, adalah seperti menyimpulkan bahwa musik telah punah hanya karena sekolah musik tidak ramai. Yang sedang surut bukan substansi filsafat, tapi minat masyarakat yang memang kini cenderung lebih pragmatis dan materialistik.

Jika hari ini tak banyak yang ingin kuliah filsafat, bukan berarti filsafat tak relevan. Sebaliknya, di tengah dunia yang serba cepat, bising, dan dangkal, justru filsafat makin diperlukan. Ia menawarkan ruang refleksi, mengasah akal sehat, mengajarkan cara berpikir jernih dan logis sesuatu yang jarang kita temui di ruang publik kita hari ini.

Banyak orang menyamakan “manfaat” dengan “uang” atau “jabatan”. Padahal, tak semua yang berguna harus menghasilkan materi. Filsafat mungkin tidak melahirkan teknologi, tapi ia mengajarkan bagaimana manusia menggunakan teknologi dengan etis. Filsafat tidak menciptakan vaksin, tapi ia menjaga agar ilmu tidak kehilangan moralitas. Ia juga mengajarkan manusia tentang keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan sesuatu yang justru sering diabaikan oleh dunia yang serba transaksional ini.

Jika kita menilai sesuatu hanya dari sisi materi, bisa jadi bukan filsafat yang bangkrut tapi justru akal sehat kita sendiri. Filsafat mengajak manusia berpikir. Dan ketika manusia berhenti berpikir, ia perlahan kehilangan kemanusiaannya.

Seperti kata Ali bin Abi Thalib, banyak orang memindahkan akalnya dari kepala ke mata. Yang dinilai hanya apa yang tampak: harta, mobil, pangkat. Padahal, filsafat bekerja di ranah yang tak kasatmata, tapi sangat dalam: kesadaran, refleksi, dan kebijaksanaan.

Mengatakan bahwa jurusan filsafat tak layak dipertahankan karena hanya sedikit alumninya yang menjadi filsuf adalah argumen yang lemah. Di bidang lain pun sama: tak semua lulusan teknik jadi insinyur andal, tak semua lulusan ekonomi jadi ekonom besar. Tapi tak ada yang usul agar jurusan-jurusan itu ditutup, bukan?

Bahkan, justru karena sedikitnya orang yang mau berpikir filosofis, maka tugas menjaga filsafat menjadi lebih penting. Dunia butuh lebih banyak pemikir, bukan sekadar pekerja.

Kalau benar filsafat mau dihapus dari kampus karena tak menghasilkan keuntungan dan peminatnya sedikit, maka kita sedang mendorong pendidikan hanya ke arah pasar.

Kampus bukan hanya tempat mencetak tenaga kerja, tapi tempat membentuk manusia yang berpikir. Jika pendidikan hanya dikendalikan oleh logika industri, maka jangan heran kalau nanti kita mencetak generasi yang cekatan bekerja tapi malas berpikir.