Penderitaan yang Layak Ditonton

Tentang Intelektual, Kemiskinan, dan Empati yang Aman

Penderitaan hari ini tidak harus diselesaikan. Cukup dibahas. Selama bisa dipresentasikan dengan bahasa rapi, dikemas dengan data, dan disampaikan dengan nada prihatin, kemiskinan sudah menjalankan fungsinya sebagai tontonan intelektual. Kita tidak perlu repot-repot mengubah apa pun. Yang penting terlihat peduli.

Di titik inilah elit intelektual menemukan peran nyamannya. Mereka tidak menciptakan kemiskinan, tentu saja. Tetapi mereka membantu menjadikannya jinak dalam wacana. Tidak terlalu mengganggu, tidak terlalu politis, dan, yang paling penting tidak menuntut keberpihakan yang berisiko.

Kemiskinan kemudian hadir sebagai objek diskusi, bukan sebagai luka sosial. Ia dibedah dalam forum, ditampilkan dalam laporan, dan dianalisis dengan berbagai istilah teknis. Namun semakin sering dibicarakan, justru semakin kehilangan daya guncangnya. Ia berubah menjadi topik rutin yang bisa dibahas sambil tetap minum kopi dengan tenang.

Elit intelektual sangat piawai merawat jarak. Mereka dekat dengan angka, tetapi jauh dari dapur yang selalu kosong. Mereka hafal konsep ketimpangan, tetapi gagap menghadapi cerita tentang utang harian, kerja tanpa kepastian, dan hidup yang terus berada di ujung cemas. Semua itu dianggap tidak cukup representatif untuk masuk ke dalam analisis besar.

Dalam banyak perbincangan, kemiskinan akhirnya direduksi menjadi masalah kapasitas individu. Orang miskin dianggap kurang terampil, kurang berpendidikan, atau kurang adaptif. Struktur ekonomi yang timpang hanya disebut sekilas, sekadar agar analisis terdengar lengkap. Dengan begitu, kritik tetap terlihat tajam, tanpa harus menyentuh pihak yang berkuasa.

Bahasa menjadi alat utama intelektual kosmetik. Dengan bahasa yang tepat, kemiskinan bisa dijelaskan tanpa harus dipersoalkan. Dengan istilah yang canggih, penderitaan bisa dinetralkan. Emosi diredam, kemarahan dijinakkan, dan ketidakadilan disulap menjadi persoalan teknis yang menunggu solusi bertahap.

Di ruang publik, kemiskinan sering tampil sebagai bahan refleksi moral. Kita diajak prihatin, diminta empati, dan diingatkan untuk bersyukur. Namun refleksi ini jarang berujung pada pertanyaan yang lebih tidak nyaman: siapa yang diuntungkan dari kemiskinan yang terus dipelihara? Pertanyaan semacam ini dianggap terlalu keras, terlalu ideologis, atau terlalu tidak akademik.

Ironisnya, semakin tinggi pendidikan seseorang, sering kali semakin halus caranya menghindari konflik. Elit intelektual belajar bagaimana mengkritik tanpa benar-benar mengganggu. Mereka tahu kapan harus berhenti, kapan harus melunak, dan kapan harus mengganti kata agar tetap aman. Kemiskinan pun dibahas dalam batas-batas yang sopan.

Penderitaan, dalam situasi ini, menjadi sesuatu yang layak ditonton. Ia hadir dalam seminar, tulisan opini, dan diskusi publik sebagai objek yang sah untuk diamati. Kita merasa telah berbuat sesuatu hanya dengan membicarakannya. Padahal, yang berubah sering kali hanya perasaan kita sendiri merasa peduli, merasa sadar, merasa bermoral.

Islam berkemajuan, ketika masuk ke ruang ini, tidak selalu bebas dari jebakan yang sama. Ia bisa saja tampil modern dan rasional, tetapi kehilangan daya ganggunya. Ayat dan nilai keadilan sosial dikutip, namun diarahkan untuk menenangkan, bukan menggugat. Orang miskin diajak sabar, sementara struktur yang menindas jarang disentuh.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak pernah berdiri netral di hadapan ketimpangan. Ilmu selalu ditautkan dengan amal dan tanggung jawab sosial. Namun ketika tradisi ini dipoles secara kosmetik, ia berubah menjadi narasi etis yang aman. Kemiskinan dibahas sebagai ujian, bukan sebagai kegagalan sistem yang harus dilawan.

Elit intelektual sering berdalih bahwa perubahan membutuhkan waktu. Pendekatan harus bertahap, kritik harus santun, dan stabilitas harus dijaga. Semua terdengar bijak, sampai kita sadar bahwa yang diminta menunggu selalu mereka yang hidup dalam kekurangan. Sementara yang nyaman tetap punya waktu untuk berdiskusi.

Masalahnya bukan pada ilmu pengetahuan, melainkan pada keberanian moral dalam menggunakannya. Ketika ilmu lebih sibuk menjaga reputasi intelektual daripada membela yang terpinggirkan, ia kehilangan fungsi sosialnya. Ia menjadi kosmetik: memperindah wajah kepedulian, tanpa menyentuh akar penderitaan.

Masyarakat pun ikut terjebak dalam pola ini. Kita terbiasa mengapresiasi orang pintar yang fasih bicara tentang kemiskinan, tetapi jarang bertanya apa dampak dari pembicaraan itu. Kita lebih menghargai analisis yang rapi daripada keberpihakan yang berisiko. Elit intelektual tumbuh subur dalam budaya semacam ini.

Padahal, berpikir kritis seharusnya membuat kita gelisah. Gelisah melihat ketimpangan yang terus direproduksi. Gelisah menyadari bahwa kemiskinan bukan sekadar nasib, melainkan hasil dari pilihan-pilihan sosial, ekonomi, dan politik. Tanpa kegelisahan ini, intelektualisme hanya akan menjadi latihan retorika.

Kita tidak kekurangan orang pintar yang bisa menjelaskan kemiskinan dari berbagai sudut. Yang kurang adalah keberanian untuk mengganggu kenyamanan. Keberanian untuk berkata bahwa ada yang salah dengan sistem, bukan sekadar dengan individu. Keberanian untuk menurunkan ilmu dari panggung ke kehidupan nyata.

Selama penderitaan hanya layak ditonton dan dibicarakan, kemiskinan akan tetap menjadi latar yang setia. Ia akan terus hadir dalam wacana, tanpa pernah benar-benar ditangani. Dan selama elit intelektual lebih memilih aman daripada berpihak, ilmu pengetahuan akan terus terlihat indah, tetapi kosong.