Aporia Spiritualitas Di Tengah Ekologi Terjajah​

Ada keheningan yang aneh membayang di ufuk zaman ini. Hening yang bukan berasal dari kontemplasi, melainkan dari keterputusan. Manusia modern berdiri di tepi sungai tercemar, menatap hutan yang gundul, memandangi tanah retak — lalu menunduk pada layar, mencari jawaban yang tak kunjung hadir. Di situlah terletak aporia kita hari ini: kebingungan spiritual dalam menghadapi kerusakan ekologis yang kita ciptakan sendiri.

Aporia, dalam tradisi filsafat Yunani, adalah jalan buntu dalam berpikir; suatu keraguan fundamental yang membekukan langkah rasional. Tetapi zaman ini, aporia tak hanya menyentuh logika — ia menelusup ke relung iman. Kita bicara tentang cinta alam, tentang religiusitas yang memuliakan ciptaan, namun di waktu yang sama menjadi bagian dari sistem yang melumat bumi. Kita berdoa agar hujan turun, sementara kita sendiri membakar hutan.

Leonardo Boff pernah menulis dalam kerangka ekoteologi pembebasan, bahwa iman tak mungkin tegak di atas tanah yang tercabik. Sebab bumi sendiri adalah sakramen — tanda konkrit kehadiran Ilahi. Ketika bumi dijajah oleh kerakusan manusia, ketika sungai dicekik limbah, ketika tanah dikotori racun kimia, spiritualitas pun kehilangan pijakan konkret. Kita beribadah dalam bangunan mewah, tetapi altar alam semesta runtuh tanpa suara.

Dalam kesadaran kosmologis tradisi Nusantara, sungai bukan hanya saluran air, tetapi nadi kehidupan; gunung bukan sekadar batu tinggi, melainkan tangga langit. Kearifan semacam ini pernah menjadi tameng etis yang menahan tangan manusia agar tidak serakah. Namun modernitas menganggap semua itu mitos, menertawakannya, lalu menumbangkannya dengan buldoser demi satuan hektar produksi.

Di sinilah lahir dialektika getir antara spiritualitas dan ekologi. Kita mulai bertanya-tanya: bagaimana mungkin kita merasakan kehadiran Yang Transenden di tengah tanah yang terjajah? Bagaimana mungkin kita bicara kasih, rahmat, dan penyelamatan, sementara flora-fauna binasa, sementara tanah leluhur dijual tanpa upacara pamit?

Kebingungan ini juga menjadi cermin betapa iman sering tereduksi menjadi aktivitas ritual individual. Spiritualitas tercerabut dari dimensi kosmiknya. Kita membatasi sakralitas hanya pada ruang-ruang ibadah, padahal dalam kesadaran primordial, sakralitas adalah sesuatu yang merembes pada dedaunan, bebatuan, aliran sungai, desau angin. Ketika ekologi dijajah, spiritualitas pun kehilangan konteks organiknya.

Para filsuf ekofenomenologi seperti David Abram mengingatkan bahwa kesadaran ekologis lahir dari interaksi indrawi kita dengan dunia. Meraba kulit pohon, mencium tanah basah, mendengar burung bernyanyi — semua ini bukan sekadar estetika, melainkan jembatan eksistensial. Maka ketika alam dimusnahkan, bukan hanya habitat biologis yang punah, tetapi habitat spiritual kita ikut lapuk.

Dalam aporia ini, kita justru diajak merenung lebih radikal: mungkin tugas kita bukan mencari jawaban cepat, melainkan berani duduk dalam kebingungan, memeriksa luka, lalu mengakui bahwa kita telah gagal menjaga rumah semesta. Dari pengakuan inilah semoga lahir spiritualitas baru — spiritualitas yang tidak melarikan diri dari tanah, melainkan memeluknya dengan rasa gentar dan tanggung jawab.

Spiritualitas semacam ini bukan lagi soal mencari keselamatan jiwa sendiri, tetapi meneguhkan relasi timbal balik dengan bumi. Ia mengajarkan kita untuk menolak menjadi penakluk, memilih menjadi penjaga. Untuk berhenti menatap tanah sebagai obyek mati, dan mulai melihatnya sebagai saudara kosmik yang menanti uluran kasih.

Mungkin inilah jalan keluar dari aporia: menata ulang horizon iman, mengembalikannya ke pangkuan ekologi. Sebab pada akhirnya, tidak akan ada keselamatan rohani di atas ekologi yang hancur. Kita, tanah, air, udara, semua bernafas dalam satu tarikan hidup yang sama. Dan tugas spiritual terbesar kita hari ini adalah memastikan tarikan itu tak terputus sebelum waktunya.

Filsuf kontemporer seperti Byung-Chul Han dalam The Disappearance of Rituals menyinggung hilangnya ritus keseharian yang dahulu menghubungkan manusia dengan dunia secara sakral. Dalam konteks tanah, hal ini berarti musnahnya laku-laku budaya yang menempatkan tanah dalam kosmologi suci: upacara tanam, ritual sebelum menebang hutan, atau doa kala menapaki ladang. Erosi kesakralan ini menjadi tanda betapa nihilisme kultural merayap ke relung hidup kita.

Tanah dalam perspektif tradisi adalah representasi hidup. Dalam masyarakat agraris, tanah bukan hanya sumber pangan tetapi juga tempat menanam nilai-nilai. Ia adalah kitab yang ditulis dengan cangkul, air hujan, dan keringat. Tak heran kalau Simone Weil dalam Gravity and Grace menyebut keterikatan manusia pada tanah sebagai fondasi etis: tanpa rasa memiliki (dalam arti tanggung jawab) terhadap tanah, mustahil lahir tata moral yang berkelanjutan.

Krisis ekologis hari ini—dari degradasi lahan, deforestasi massif, hingga polusi tanah—sebenarnya bukan sekadar bencana fisik. Ini adalah krisis spiritual sekaligus epistemologis. Tanah yang diperlakukan hanya sebagai objek produksi kehilangan makna simboliknya. Kita melupakan tanah sebagai “ruang ingatan” di mana narasi leluhur dan harapan masa depan seharusnya dirajut.

Dalam tafsir ekoteologi pembebasan, Leonardo Boff menegaskan bahwa ekologi harus dipahami bukan hanya secara biologis tetapi juga teologis. Tanah menjadi locus theologicus, tempat wahyu Tuhan termanifestasi. Merusak tanah berarti menodai kesaksian Ilahi yang terhampar dalam biodiversitas, siklus air, serta kesuburan bumi. Inilah dosa ekologis struktural yang tumbuh dari kerakusan sistem ekonomi global.

Kebudayaan lokal Nusantara sebenarnya kaya akan cara memuliakan tanah. Dalam budaya Bugis-Makassar, tanah tidak pernah disebut hanya sebagai lekkong (tanah fisik), tetapi juga tana pappasang tanah wasiat atau amanah leluhur. Dalam masyarakat Dayak, sebelum membuka ladang, selalu dilakukan upacara nyelapat taheta untuk memohon restu dan menghindari murka roh penjaga tanah. Semua ini adalah upaya menempatkan tanah dalam posisi sakral.

Namun globalisasi meminggirkan kosmologi tanah ini. Seperti diuraikan oleh David Harvey dalam Spaces of Global Capitalism, ruang (termasuk tanah) direkonstruksi hanya dalam logika pertumbuhan modal. Tanah berubah menjadi nilai tukar, menghilangkan dimensi nilai-nilai intrinsik dan relasi batin yang dulu menopang masyarakat agraris. Akibatnya, tanah tak lagi dihormati, melainkan dieksploitasi tanpa batas.

Jika kesakralan tanah terhapus, maka tak ada lagi sekat etis untuk mencegah manusia menggali lebih dalam, membakar lebih banyak, dan menambang tanpa jeda. Krisis ekologis yang kita saksikan hari ini adalah refleksi langsung dari krisis cara pandang kita. Kita tidak hanya mengalami climate change, tetapi juga value change pergeseran nilai yang memisahkan kita dari tanah sebagai rahim kehidupan.

Mungkin, tugas besar kita hari ini adalah melakukan dekonstruksi: meruntuhkan cara berpikir hegemonik yang menempatkan tanah sebagai objek mati. Kita perlu membangkitkan kembali ritual-ritual keseharian yang memulihkan rasa hormat, rasa gentar, rasa syukur pada tanah. Dengan begitu, kita tidak hanya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga memulihkan makna eksistensi kita sebagai bagian dari tanah.

Tanah tidak pernah butuh kita untuk hidup—tetapi kita selalu butuh tanah untuk menyambung napas. Dari tanah kita lahir, di tanah kita bekerja, dan pada akhirnya kepada tanah kita kembali. Menyadari sakralitas tanah bukanlah romantisme usang; melainkan prasyarat etik dan spiritual agar peradaban ini tidak runtuh menimpa diri kita sendiri.