Dalam sebuah ruang kelas di sudut kota, seorang guru berdiri menghadap para muridnya. Di pundaknya, terbeban beban yang tak terlihat: beban untuk mencerdaskan, dan beban untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Inilah potret nyata yang sering kali tersembunyi di balik gemuruh jargon-jargon reformasi pendidikan. Guru, duit, dan ilmu tiga kata sederhana yang menyimpan ketegangan dahsyat yang menentukan masa depan bangsa.
Guru adalah sosok yang mewakili panggilan jiwa. Sejak zaman kolonial hingga era digital, guru menjadi tumpuan harapan sebagai agen pengetahuandan agen perubahan. Namun, gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” justru sering berubah menjadi kutukan halus yang mengaburkan satu realitas sederhana, bahwa guru adalah manusia yang perlu makan, membayar sewa, dan menyekolahkan anak-anaknya. Ketika gaji tidak cukup memadai, yang terjadi adalah keterasingan. Guru teralienasi dari hasil kerjanya sendiri. Energi yang seharusnya dipakai untuk menyempurnakan metode mengajar atau mendalami materi, terkuras untuk mencari tambahan penghasilan di luar jam sekolah. Mengajar yang semestinya menjadi panggilan jiwa, pelan-peling berubah menjadi sekadar pekerjaan untuk menyambung hidup.
Di sinilah duit masuk sebagai pemeran utama yang mengubah segalanya. Duit, yang seharusnya berfungsi sebagai medium pendukung, dalam praktiknya sering berubah menjadi logika yang mendefinisikan ulang seluruh nilai pendidikan. Kita menyaksikan bagaimana ilmu pengetahuan mengalami komodifikasi diubah menjadi barang yang bisa diperjualbelikan. Bimbingan belajar tumbuh subur dengan janji-janji kemudahan lulus ujian. Ilmu yang seharusnya merupakan proses pencerahan yang kompleks, direduksi menjadi kumpulan rumus cepat dan trik menjawab soal. Bahkan guru-guru pun terdorong menjadi konten kreator di platform digital. Di satu sisi, ini adalah cara brilian untuk menjangkau lebih banyak murid. Namun, di baliknya, algoritma platform yang didorong oleh views dan likes secara halus mengubah ilmu menjadi tontonan yang harus menghibur.
Transformasi paling mendasar terjadi pada hakikat ilmu itu sendiri. Dalam relasi ideal, ilmu adalah otoritas yang dipegang guru berdasarkan kompetensi dan dedikasinya. Guru adalah gatekeeper yang mentransmisikan dan mengembangkan pengetahuan. Namun, dalam cengkeraman logika duit, otoritas ini bergeser. Ilmu tidak lagi untuk dikritisi dan didalami, melainkan untuk dikonsumsi demi lulus ujian atau mendapatkan pekerjaan. Murid berubah menjadi konsumen, sementara guru menjadi penyedia jasa. Otoritas guru tidak lagi ditentukan oleh kedalaman ilmunya, melainkan oleh kemampuannya menghasilkan nilai-nilai tinggi dalam ujian. Ilmu yang kaya dan multidimensi yang mencakup tidak hanya aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik pelan-pelan menyusut menjadi sekadar kumpulan fakta yang bisa diukur dengan lembar jawaban komputer.
Lantas, adakah jalan keluar dari kubangan komodifikasi ini? Jawabannya tidak terletak pada penolakan terhadap duit sama sekali. Duit tetaplah sebuah keniscayaan dalam masyarakat modern. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mereposisi duit kembali sebagai medium pendukung, bukan sebagai tujuan akhir. Kesejahteraan guru harus menjadi prasyarat mutlak. Guru yang sejahtera secara finansial adalah guru yang bebas secara kognitif yang bisa fokus sepenuhnya pada pengembangan ilmu dan metode pengajaran tanpa dibebani urusan perut. Negara harus hadir untuk memastikan bahwa guru tidak hanya dihormati dalam retorika, tetapi juga dalam perhitungan anggaran.
Pendidikan kritis bagi guru juga menjadi senjata penting. Guru perlu menyadari dinamika kekuatan yang bermain di dunia pendidikan. Dengan kesadaran ini, mereka dapat membuat pilihan pedagogis yang lebih otentik dan tidak sekadar menuruti tekanan pasar. Selain itu, membangun komunitas praktisi yang solid bisa menjadi ruang resistensi tempat guru saling berbagi praktik baik, bukan sekadar berbagi soal ujian.
Pada akhirnya, ketegangan antara guru, duit, dan ilmu adalah cerita tentang nilai-nilai yang kita pegang sebagai bangsa. Apakah kita melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, atau sekadar sebagai jalur produksi untuk menciptakan tenaga kerja siap pakai? Jawabannya tidak tertulis dalam kurikulum, tetapi dalam setiap keputusan yang kita buat untuk memuliakan guru dan merawat kemurnian ilmu pengetahuan. Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di ruang kelas, tetapi juga oleh bagaimana kita sebagai bangsa menjembatani ketiga pilar yang saling berdesakan ini: guru, duit, dan ilmu.
Goenawan.id