Collapse: Cermin Sejarah untuk Masa Depan

Sejarah peradaban manusia selalu diwarnai kisah jatuh bangun. Dari Mesopotamia, Maya, hingga Angkor, kita belajar bahwa tidak ada peradaban yang abadi. Jared Diamond, dalam bukunya Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed, mengajak kita menelusuri alasan di balik keruntuhan tersebut. Baginya, runtuhnya peradaban bukanlah misteri, melainkan konsekuensi dari pilihan manusia dalam memperlakukan lingkungannya.

Diamond merangkum lima faktor yang kerap berperan dalam keruntuhan: kerusakan lingkungan, perubahan iklim, berkurangnya sumber daya, konflik dengan masyarakat lain, dan kegagalan dalam merespons masalah tersebut. Faktor-faktor ini terlihat nyata dalam kasus Pulau Paskah, di mana penebangan pohon tanpa kendali menyebabkan kehancuran ekosistem, yang akhirnya menyeret masyarakatnya menuju bencana sosial.

Jika kita menengok Al-Qur’an, gagasan Diamond ini seolah mendapat gema. Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm [30]: 41). Ayat ini menegaskan bahwa krisis ekologis adalah hasil tangan manusia sendiri eksploitasi tanpa kendali, keserakahan, dan kegagalan menjaga amanah bumi.

Keruntuhan peradaban selalu terkait dengan relasi manusia dan lingkungannya. Dalam pandangan Jared Diamond, banyak masyarakat kuno gagal karena mereka tidak mampu membaca tanda-tanda krisis. Mereka menebang hutan tanpa memikirkan regenerasi, menggali tanah tanpa mengingat batas kesuburan, atau memburu hewan tanpa memikirkan keseimbangan ekosistem. Kesalahan ini bukan sekadar teknis, melainkan lahir dari cara pandang yang sempit, memandang alam hanya sebagai objek konsumsi, bukan mitra keberlanjutan.

Di sini kita menemukan relevansi dengan konsep Islam tentang mīzān (keseimbangan). Al-Qur’an menyebut bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dengan keseimbangan (QS. Ar-Rahman [55]: 7–9). Manusia diperintahkan untuk tidak melampaui batas, sebab setiap pelanggaran terhadap keseimbangan alam akan kembali menghantam manusia sendiri. Ketika Diamond menekankan pentingnya “pilihan” masyarakat dalam menjaga lingkungan, Islam menegaskan bahwa pilihan itu adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah.

Jika kita tarik ke realitas Indonesia, problem ini tampak jelas dalam isu hutan dan tambang. Pulau Kalimantan yang disebut sebagai “paru-paru dunia” terus digunduli atas nama investasi. Papua yang kaya emas dan nikel justru menanggung penderitaan ekologis dan sosial. Fenomena ini mengingatkan pada pola klasik keruntuhan peradaban: sumber daya alam dikeruk habis, masyarakat lokal tersingkir, sementara elite politik abai atau bahkan menjadi bagian dari masalah.

Ironisnya, modernitas sering membuat manusia merasa “aman” dari keruntuhan. Teknologi dianggap solusi untuk semua masalah. Namun, Diamond memperingatkan bahwa teknologi bukanlah jaminan. Jika pilihan politik, ekonomi, dan moral tetap salah, teknologi hanya mempercepat keruntuhan. Contohnya bisa kita lihat pada penggunaan plastik: teknologi mempermudah kehidupan, tapi tanpa kesadaran ekologis, ia justru menjadi ancaman global.

Selain itu, faktor konflik sosial juga penting. Banyak peradaban kuno runtuh bukan hanya karena alam, tetapi juga karena peperangan dan perebutan sumber daya. Hal ini sangat relevan dengan kondisi dunia modern, di mana krisis energi dan air sering memicu konflik. Indonesia pun tidak lepas dari potensi ini: konflik agraria, perebutan lahan, dan pertarungan politik-ekonomi sering berakar pada penguasaan tanah dan sumber daya.

Di tengah tantangan ini, kita perlu membangun paradigma baru yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan nilai-nilai spiritual. Islam, dengan konsep rahmatan lil ‘alamin, sebenarnya menawarkan fondasi: menjaga bumi bukan hanya kebutuhan praktis, tapi ibadah. Jika perspektif ini dihidupkan kembali, umat Islam bisa memberikan kontribusi penting bagi gerakan global menyelamatkan planet.
Diamond sendiri tidak menutup esainya dengan pesimisme. Ia menegaskan bahwa ada masyarakat yang berhasil bertahan karena mampu mengambil keputusan bijak. Contoh klasiknya adalah Jepang pada era Tokugawa, yang mengatur ulang sistem pengelolaan hutan agar lestari. Ini menunjukkan bahwa keruntuhan bukanlah takdir mutlak; ada ruang untuk perubahan dan penyelamatan.

Akhirnya, Collapse pada hakikatnya bukan sekadar catatan arkeologi tentang peradaban yang hilang, melainkan cermin. Ia mengingatkan kita bahwa keruntuhan bisa terjadi pada siapa pun, kapan pun, termasuk masyarakat modern. Pertanyaannya bukan lagi “apakah kita akan runtuh”, melainkan “apakah kita mau belajar dari sejarah untuk memilih jalan yang benar.”

Esai ini ingin menegaskan bahwa Collapse adalah peringatan. Jika bangsa Indonesia gagal menjaga tanah, air, dan hutan, maka tanda-tanda keruntuhan hanya menunggu waktu. Tetapi jika kita mampu belajar dari sejarah, merespon krisis dengan kebijakan bijak, serta menempatkan diri sebagai khalifah yang bertanggung jawab, maka masa depan bisa kita pilih: bukan jalan runtuh, melainkan jalan keberlanjutan. Sejarah memberi cermin, agama memberi amanah, dan pilihan ada di tangan manusia.

Goenawan.id